Minggu, 14 Agustus 2011

PADI SEBATANG

Tanam padi sebatang yang menjanjikan hasil lebih bagus dan lebih hemat sering menjadi rekomendasi instansi pertanian untuk meningkatkan hasil panen. Dengan tanam padi sebatang, petani secara tidak langsung diarahkan untuk mencoba tanam padi secara intensif karena perlakuan dengan cara ini memaksa petani untuk lebih hati-hati dalam setiap tahap penanaman, mulai dari pembenihan sampai cara tanam dan perawatan. Dari teori yang sering saya jumpai inilah akhirnya saya tertarik untuk mempraktekannya.
Dalam percobaan tanam padi sebatang ini ada satu hal yang saya tinggalkan yaitu tanam benih muda. Hal ini karena keinginan itu terlintas ketika benih sudah terlanjur dewasa yaitu usia 20 hari. Tapi tak apalah itung-itung untuk membandingkan dengan padi yang saya tanam secara berumpun.
Tahap pertama yang saya lakukan adalah menyiapkan lahan 100 m2 yang kebetulan belum saya tanami dan memang sering saya jadikan lahan percobaan.
Persiapan lahan seperti pada umumnya, hanya cara tanam agak lama karena harus memastikan bahwa benih yang ditanam betul-betul sebatang dan harus tegak berdiri. Karena jika tidak maka tak ada tanaman pengganti.
Yang kedua adalah mengatur jarak tanam, jarak yang saya pakai adalah 25x25, jadi dalam satu petak berukuran 100 m2 ada 1600 populasi tanaman.
saat padi usia 0 - 15 hari padi tidak sedap dipandang, beda dengan padi yang ditanam berumpun, baru seminggu sudah kelihatan rimbun.
Pemupukan pertama saat padi usia 14 hari. dan saat padi usia 20 hari gulma sudah hampir memenuhi di sela-sela padi. hal ini dikarenakan daun padi belum rimbun sehingga rumput bebas tumbuh karena tak ternaungi.
usia 25 hari penyiangan pertama yang mana jika dihitung dua kali lipat dari biasanya. Setelah penyiangan, padi mulai tumbuh dengan cepat, batang padi membesar, anakan tumbuh sangat banyak dan daunnya lebar-lebar, pertumbuhannya meledak dan anakan terus bermunculan, setelah pemupukan kedua padi tumbuh sangat rimbun dan sehat, anakannya sangat banyak rata-rata 50 sampai 60 bahkan yang di pinggir rata-rata 80.
Setelah masa panen, hasil padi ini menghasilkan gabah 90 kg, atau 9 ton per ha. Sedangkan tanam padi berumpun (4 batang) hanya menghasilkan 7 ton per ha.
dari percobaan tersebut dapat diambil kesimupulan bahwa :
  1. Tanam padi sebatang dapat meningkatkan produksi 25%

  2. Biaya penanaman lebih besar karena lebih lama (harus memilah-milah benih)

  3. Biaya perawatan (penyiangan) lebih besar karena gulma mudah tumbuh

  4. Hemat benih hampir 80%.

Demikian hasil percobaan tanam padi sebatang, semoga sedikit ilmu ini dapat bermanfaat bagi petani.

Foto dokumentasi pertumbuhan padi sebatang:






PADI SEBATANG USIA 5 HARI





PADI SEBATANG USIA 7 HARI



PADI SEBATANG USIA 14 HARI



PADI SEBATANG USIA 30 HARI



PADI SEBATANG USIA 45 HARI



PADI SEBATANG USIA 70 HARI



Selasa, 02 Agustus 2011

ANGGUR DALAM POT

Tak ada barang bekas yang tak berguna jika kita mau berkreasi. contohnya adalah bonsai anggur yang saya ciptakan dari potongan dahan anggur yang terbuang.
Jika kita menemukan dahan atau tanaman belukar yg mempunyai bentuk yg unik dan menarik boleh kita mencoba untuk merangkainya. Sebenarnya semua tanaman dapat kita bentuk menjadi tanaman yg minimalis dan pantas untuk kita pajang di teras rumah atau di meja tamu, yang terpenting adalah bagaimana kita membentuknya.

BAHAN BIKIN ANGGUR POT:
  1. Dahan anggur yg sudah tua
  2. Media tanam. kompos dan pasir 1:2
  3. Pot ukuran diameter 15cm
  4. Penyanggah dari bambu.

CARA MEMBUATNYA:
  1. Semaikan dahan anggur di pot.
  2. Setelah muncul tunas, tunggu sampai agak kuat sambil menyempurnakan media.
  3. Setelah tunas agak panjang pasang penyanggah dari bambu. dengan bentuk segi tiga. masing masing panjang 40 cm (vertikal) dan yang samping bawah 15 cm (horizontal).yang paling atas bujur horizontal 30 cm.
  4. Bentuklah cabang mengikuti bentuk penyanggah yang kita buat.
Siram supaya segar kembali
Selamat mencoba.....

Jumat, 29 Juli 2011

HAWAR DAUN BAKTERI (HDB)

Padi terserang hawar daun bakteri
Bulan Mei yang seharusnya curah hujan mulai reda ternyata masih terus mengguyur, hal ini yang membuat saya tergoda untuk menanam padi untuk yang ketiga kalinya karena lahan yang seharusnya saya keringkan untuk persiapan tanam palawija masih basah karena musim hujan yang berkepanjangan.
Pada saat padi masih berumur 15 hari pertumbuhannya tampak normal, daunnya sudah menghijau dan anakan mulai bermunculan. Akan tetapi menjelang usia 20 hari daun-daun mulai tampak merah. bermacam-macam bakterisida dan fungisida tak mempan menghalaunya, bahkan serangan semakin ganas hingga padi yang sebelumnya hijau tampak merah semua dan membusuk dan akhirnya mati.
Dari luas 2 ha. hanya 30 persen yang dapat dipanen. Dari 30 persen yang selamat tersebut adalah lahan yang berada di atas atau "genengan" karena air cepat habis, sedangkan lahan yang 70 persen airnya sulit untuk dikeringkan.
Dari kegagalan tersebut dapat disimpulkan bahwa serangan hawar dauan (HDB) sulit untuk ditanggulangi terutama musim hujan, yang kedua drainase yg buruk juga sangat berperan membantu berkembangnya penyakit ini. Adapun cara pencegahannya adalah menanam varietas yang tahan yaitu, angke dan code dengan cara pengairan interminten (berselang) ada saatnya digenangi dan ada saatnya dikeringkan. dan yang tak kalah penting adalah pemupukan berimbang, terutama pemberian unsur nitrogen yang tidak berlebihan.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca sehingga dikemudian hari dapat menjadi pertimbangan dalam menanggulangi penyakit hawar daun   

Sabtu, 12 Maret 2011

TANAM PADI INPARI 1


Sebenarnya sudah tiga bulan yang lalu saya panen, tapi baru hari ini dapat memposting tulisan ini, yaitu mengenai tanam padi inpari.
Seperti biasanya untuk memulai tanam, langkah pertama adalah membuat persemaian. Dalam membuat persemaian ini saya memilih lahan yang dekat dengan sumber air dan dengan drainase yang baik sehingga keluar dan masuknya air mudah dikontrol. Untuk olah lahan persemaian saya menggunakan pupuk organik 2 zak untuk lahan seluas 40x12 meter dan dengan benih 100 Kg. Perlakuan benih juga saya terapkan setiap kali tanam. Yang pertama adalah seleksi benih yang  cukup sederhana yaitu benih dimasukan dalam air, yang mengapung dibuang dan yang tenggelam dipakai untuk benih. Perlakuan yang kedua adalah memberi insektisida yang mengandung zat pengatur tumbuh sehingga benih nantinya dapat bertahan dari serangan hama dan dapat tumbuh dengan baik. 
Awal pertumbuhan benih sangat baik hampir 90 % hidup semua tapi dihari ke 7 setelah semai benih terserang jamur. Awal mulanya daun terlihat kemerah-merahan dan selanjutnya turun sampai ke batang. Untuk mengatasi hal ini saya memakai pupuk daun dicampur fungisida dan bakterisida, alhamdulillah akhirnya benih dapat tumbuh kembali.

Sambil menunggu persemaian saya lanjutkan olah lahan setelah lahan diolah, saya taburkan pupuk organik 40 zak atau kurang lebih 1.6 ton untuk lahan 2 Ha. Untuk menambah kesuburan juga saya beri 2 botol pupuk cair organik yang berisi berbagai macam bakteri menguntungkan dengan cara disemprotkan. Setelah olah lahan selesai saya diamkan selama 15 hari.
Saatnya tanam padi, pertama adalah memilih cara tanam. Untuk kali ini setelah berbagai pertimbangan dengan melihat kondisi alam saya putuskan memakai cara tanam jajar legowo 2:1. Cara ini baru pertama saya lakukan dan nantinya saya ingin melihat berapa hasil panennya.
Berikut ini adalaha foto yang saya abadikan mulai tanam sampai panen.




saat tanam jajar legowo inpari 1





usia 7 hari setelah tanam (HST)





usia 27 hari setelah tanam (HST)





usia 40 hari setelah tanam (HST)




usia 60 hari setelah tanam (HST)





usia 83 hari setelah tanam (HST)





usia 90 hari setelah tanam (HST) hasil panen 7 ton per ha.
catatan saat tanam:
  • saat padi usia 20 hari setelah tanam terserang hawar daun bakteri. daun tiba tiba layu dan akhirnya mati penanggulangan penyemprotan fungisida dan bakterisida dan pengeringan lahan, akibatnya gulma meledak dan biaya penyiangan membengkak.